Memahami Keuangan Keluarga
Agustus 30, 2008
Bila Anda seperti layaknya masyarakat umum, harus pergi ke kantor setiap pagi dan pulang sore harinya. Dan setiap akhir bulan atau awal bulan, Anda akan menerima gaji sebagai hasil kerja keras Anda selama satu bulan. Tentunya Anda ingin memenuhi semua kebutuhan dan keinginan Anda dengan penghasilan yang Anda miliki. Untuk itu dibutuhkan langkah-langkah agar keputusan keuangan yang dimabil tidak merusak kondisi keuangan jangka panjang.
Sebagai contoh, sebut saja Anton, saat ini bekerja di sebuah perusahaan IT di Jakarta dengan gaji bulanan sebesar Rp5 juta dan istrinya, Anita, bekerja di sebuah perusahaan BUMN, dengan gaji Rp3 juta per bulannya. Total pendapatan keluarga Anton setiap bulannya adalah Rp8 juta atau Rp96 juta setiap tahunnya.
Pajak. Umumnya gaji yang diterima para pegawai sudah dipotong pajak. Jadi Anda sudah mendapatkan pendapatan bersih setiap bulannya. Demikian pula dengan keluarga Anton, sudah mendapatkan gaji bersih setiap bulannya. Kalau gaji Anda masih gaji kotor, maka sebaiknya kurangi dulu dengan potongan pajak sebelum Anda memasukkannya ke dalam anggaran keuangan keluarga.
Pengeluaran keluarga. Sejalan dengan bergulirnya kehidupan berkeluarga, tentunya membutuhkan biaya. Pengeluaran yang umum dilakukan oleh keluarga, secara garis besar seperti berikut ini:
± Sewa rumah: Rp1,2 juta perbulannya.
± Cicilan mobil: Rp2,3 juta.
± Biaya perawatan dan kebutuhan transportasi: Rp500.000
± Listrik dan Telp. :Rp900.000
± Belanja kebutuhan bulanan: Rp1,3 juta
± Entertainment, makan di luar dan lain-lain: Rp1 juta
± Pembantu rumah tangga and supir: Rp.800,000
Bila memang pengeluaran keluarga Anton seperti yang terlihat di atas, tentunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat ini sudah mencukupi? Betul, untuk satu tingkatan memang sudah terpenuhi. Tapi kehidupan keuangan bukan saja untuk saat ini tapi juga untuk masa datang.
Dengan keterbatasan penghasilan bulanan, sudah seharusnya kita merencanakan dan mengoptimalkannya untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan kita. Dari contoh keluarga Anton, bagaiamana bila kami memiliki kekuatan majik, di mana kami naikkan dua kali lipat pendapatan keluarga Anton, yang tadinya hanya Rp8 juta setiap bulannya sekarang menjadi Rp16 juta setiap bulannya, apakah ini akan mempermudah? Belum tentu. Karena umumnya kita memiliki dorongan untuk meningkatkan pengeluaran.
Pada kenyataannya, bila kita katakan pada 100 orang akan menaikan gaji mereka 100%, 99 dari mereka pasti akan mengandakan pengeluaran mereka. Karena mereka merasa memiliki kaptasitas. Mereka akan memilih tinggal di rumah yang lebih besar, membeli mobil yang lebih bagus, dan selanjutnya, yang pada akhirnya mereka akan kembali lingkaran setan sebelumnya. Jadi jelas sekali di sini bahwa menambah pemasukan bukanlah solusi terbaik. Karena kita memiliki kecenderungan untuk menghabiskan apa yang kita dapatkan. Hal ini adalah normal. Tapi kita harus mewaspadainya.
Goal Setting Priority
Perihal tersulit dalam mengontrol keuangan adalah memulai untuk berjalan pada jalur yang benar. Selama masa sekolah sampai perguruan tinggi, kita tidak pernah mendapatkan pemahaman mengenai keuangan individu. Dan yang selalu kita dengar hanyalah persoalan keuangan tanpa tau langkah pemecahannya.
Ada satu hal yang bisa Anda lakukan untuk memulai perjalanan di jalur yang benar yaitu dengan menetapkan tujuan prioritas yang Anda idamkan. Bila Anda menginginkan sesuatu dari yang Anda lakukan, kemungkinan besar Anda akan melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan hal tersebut.
sumber :www.pembelajar.com
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed