へ待つ

洗馬外からやわな北は留守べれへまて

Add comment Agustus 30, 2008

Kiat Jitu Mengelola Keuangan Keluarga

Mengelola penghasilan dengan baik, masa depan keluarga Anda terjamin. Anggaran yang benar merupakan ‘kartu pas’ meraih jaminan itu.

Dana seringkali sudah ‘kering’ padahal tanggal gajian masih lama? Atau Anda bingung, dari mana bisa dapat dana untuk bayar uang pangkal TK si kecil yang berjut-jut itu? Mungkin pula Anda merasa sudah kerja keras, lebih dari 12 jam sehari, tapi belum juga ada hasil yang nyata. Sudahlah… sebaiknya periksa kembali apakah pengelolaan keuangan Anda sudah tepat?

Perlu anggaran

Berapa pun penghasilan Anda tak pernah cukup jika tidak direncanakan dengan benar. Masalah-masalah keuangan seperti di atas tak seharusnya terjadi jika Anda dan pasangan mengelola keuangan dengan baik.

“Penghasilan kita sebaiknya tidak hanya cukup untuk memenuhi pengeluaran kebutuhan hidup saat ini, tapi juga investasi masa depan,” ungkap Mike Rini , Perencana Keuangan dari Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk & Rekan.

Mike menyarankan agar tiap keluarga membagi penghasilan dalam pos-pos pengeluaran. Pos pengeluaran pertama untuk membayar utang: kartu kredit, cicilan rumah, cicilan mobil, dan lain-lain. Besarnya pos pengeluaran pertama ini sebaiknya tidak lebih dari 30 persen penghasilan.

Pos kedua adalah tabungan dan investasi. Kalau biasanya keluarga menabung di akhir bulan, setelah ada sisa pengeluaran, Mike menyarankan sebaliknya. “Tabungan dan investasi dialokasikan di awal. Kalau tidak demikian, tak akan pernah terisi, karena cenderung berapa pun uang yang ada akan habis,” jelasnya. Bila keluarga belum punya tujuan keuangan atau rencana digunakan untuk apa uang tabungan itu, pos ini sekurang-kurangnya 10 persen dari penghasilan keluarga.

Pos ketiga yaitu untuk premi asuransi. “Asuransi diperlukan keluarga untuk memperkecil risiko keuangan yang mungkin terjadi,” jelas Mike. Misalnya, terjadi sesuatu dengan kepala keluarga, dengan asuransi jiwa, istri yang tidak bekerja dapat menggunakan uang pertanggungan untuk membuka usaha, misalnya. Besarnya premi asuransi dari total asuransi yang diambil keluarga sebaiknya tak lebih dari 10 persen saja. Tak dianjurkan lebih dari 10 persen, karena hal yang dikhawatirkan belum tentu terjadi.

Pos keempat, yang terakhir, barulah biaya hidup keluarga. Pos ini mendapat alokasi sisa dari pengeluaran tiga pos itu tadi. Termasuk dalam pos keempat adalah belanja keluarga dan belanja pribadi Anda dan pasangan, transportasi, pembantu rumah tangga, rekening listrik, telepon dan air, pakaian, pembantu rumah tangga, hiburan dan mainan anak.

Pengalokasian dana pada setiap item, menurut Mike, fleksibel. Meski pos yang terakhirlah yang pertama kali diutak-atik jika keluarga merasa perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk mencapai suatu tujuan. Anggaran sebaiknya dibuat setahun sekali, untuk merevisi jika dirasa perlu penyesuaian-penyesuaian.

Meski tidak persis sama dengan apa yang Mike jelaskan, keluarga muda melakukan alokasi dana saat menerima penghasilan. Fransisca Elly Dwi Astuti (37 tahun) atau Sisca , ibu dari Dorothea Wening Sonyaruri (7 tahun) dan Dolorosa Raras Cindiwangi (3 tahun) salah satunya. “Penghasilan tetap suami langsung saya gunakan untuk biaya hidup keluarga sehari-hari,” ujar Sisca. Sedangkan penghasilan tetapnya sebagai Manager Promosi sebuah perusahaan rekaman langsung masuk tabungan.

Sisca tidak pernah membayar utang. “Saya dan suami terbiasa menabung untuk membeli sesuatu. Kalau tidak punya uang, ya tidak usah beli. Sementara untuk premi asuransi pendidikan, kesehatan dan kendaraan, kami bayar pertahun,” tuturnya

Lain halnya Marcelline Ellena (30 tahun) yang dipanggil Celli, wiraswasta dan ibu dari Michael Ken Jie (3 tahun). “Setiap bulannya saya tidak punya patokan untuk beli ini dan itu. Kalau keperluan rumah tangga ada yang habis, ya beli sesuai keperluan. Karena penghasilan juga tidak tentu, pengeluaran juga tidak direncanakan.”
Sesuaikan dengan tujuan keuangan

“Jika hanya menabung 10 persen dari tabungan, kapan kami dapat liburan keliling Eropa sekeluarga?” Mungkin demikian pikir Anda. Apalagi Anda masih ingin punya mobil baru, rumah baru, menyekolahkan anak ke luar negeri, dan sejumlah keinginan lain. Itu sebabnya, perencanaan dibuat disesuaikan tak hanya berdasar penghasilan, tetapi juga tujuan keuangan keluarga.

Setiap keluarga sebaiknya punya tujuan keuangan yang merupakan segala keinginan seseorang atau sebuah keluarga yang butuh sejumlah uang untuk mewujudkannya. Dengan adanya tujuan keuangan,

kita dapat merencanakan berapa lama dapat mencapai tujuan tersebut dan langkah apa yang dapat kita ambil. Ada tujuan dalam jangka pendek, yaitu jika ingin dicapai dalam waktu kurang dari satu tahun; jangka menengah, jika waktu yang ingin dicapai 1 – 5 tahun; dan jangka panjang, jika waktu yang ingin dicapai lebih dari 5 tahun.

Mike mencontohkan jika keluarga ingin membeli rumah lima tahun lagi, mereka perlu membuat tujuan secara spesifik, yaitu berapa harga rumah yang diinginkan dan dalam berapa tahun lagi dibeli, dan darimana uang untuk membayarnya. Misalnya, harga rumah yang diinginkan saat ini Rp. 500 juta. Bila berniat menyicil, berapa uang muka yang perlu disiapkan. Uang muka yang umumnya 30 persen dari harga rumah ini dapat diperoleh keluarga dengan melihat “Neraca Keluarga” (Lihat boks : Contoh Anggaran Keluarga). Setelah itu, hitung berapa kekurangannya untuk uang muka ini. Dalam waktu 5 tahun berarti keluarga perlu menabung sejumlah sisa uang muka.

Misalnya tidak ada uang yang dapat diambil dari tabungan, keluarga dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian anggaran dengan menabung untuk uang muka ini. Secara sederhana, dapat kita hitung Rp. 150.000.000,- : 5 tahun : 12 bulan = Rp. 2.500.000,- perbulan. Namun, dalam 5 tahun ke depan, rumah yang saat ini seharga Rp. 500.000.000,- berubah harganya. Untuk itu, keluarga dapat memprediksikan tingkat inflasi. Jika menginginkan perhitungan yang mendekati angka yang tepat, Anda dapat minta bantuan perencana keuangan untuk menghitungnya.).

Sebuah keluarga dapat saja memiliki lebih dari satu tujuan keuangan. Jika sudah tahu tujuan keuangan dan kondisi keuangan, barulah keluarga membuat perencanaan atau anggaran setiap bulannya.

Tujuan keuanganlah yang membuat Sisca menabung penghasilan tambahannya dan suami. “Saya dan suami punya impian bisa membuat studio. Entah untuk disewakan atau punya PH ( Production House ) sendiri. Untuk itu kami perlu membeli tanah yang luas dalam sepuluh tahun ke depan.”
Kenali produk-produk investasi

Meski berniat menabung, namun Anda kesal juga melihat tambahan dana tabungan merayap lamban. Bahkan bunga yang diberikan tak terasa karena dipotong biaya administrasi dan pajak. Jika ini yang Anda alami, Mike menyarankan melakukan investasi.

“Menabung tidak usah banyak-banyak, lebih baik banyak dinvestasikan saja,” tuturnya. Besarnya tabungan sebaiknya dijaga antara 3 – 6 kali pengeluaran Anda perbulan. Tabungan inilah yang dinamakan “dana cadangan” atau “ emergency fund” . Dana ini dapat digunakan jika ada pengeluaran tak terduga.

Jika ada dana lebih, keluarga dapat menginvestasikannya dalam beberapa jenis investasi. Mike membagi dalam empat kategori. Pertama, investasi melalui produk-produk keuangan. Keluarga dapat memilih sesuai pengalaman dan pengenalan produk investasi tersebut. Mereka yang awam biasanya memilih deposito. Selain Deposito, keluarga juga dapat memilih reksadana (mutual fund), saham dan obligasi. Reksadana adalah sebuah bentuk investasi yang menggabungkan semua uang investor dalam suatu wadah, dimana uang tersebut selanjutnya dikelola oleh sebuah perusahaan investasi dengan cara mengalokasikannya ke dalam satu atau berbagai macam instrumen investasi. Obligasi adalah surat hutang yang diterbitkan baik oleh pemerintah maupun perusahaan.

Kategori kedua adalah melalui usaha. Keluarga membuka usaha sendiri, sebagai sampingan dari penghasilan tetap maupun bergabung dengan orang lain.

Kategori ketiga adalah properti. Keluarga dapat membeli tanah atau rumah, misalnya. Dapat dikontrakkan atau untuk usaha kamar kos.

Kategori terakhir adalah exotic investment . Termasuk di dalamnya emas, berlian atau pun barang-barang koleksi yang bernilai seperti lukisan. (Lihat boks : Sehatkah Perencanaan Keuangan Keluarga Anda?).

Investasi usaha, properti dan exotic investment tampaknya banyak dikenal. Celli dan Sisca memilih investasi jenis ini jika ada dana lebih dalam keuangan mereka.

Grahita Purbasantika Nugraha

Add comment Agustus 30, 2008

Baby Budgeting

Tak hanya fisik dan mental, keuangan pun harus Anda siapkan. Langkah pertama: siapkan anggaran keuangan untuk si bayi baru.

Anda sudah positif hamil? Selamat! Segera siapkan diri menjalani kehamilan sehat dan bahagia! Anda dan pasangan juga mesti siap-siap finansial. Kehadiran anak menambah pengeluaran sehari-hari. Beberapa langkah baby budgeting berikut ini perlu Anda lakukan.

* Cermati anggaran bulanan

Alangkah baiknya bila Anda catat pengeluaran rutin setiap bulan, supaya jelas untuk apa saja Anda berbelanja. Dari catatan tersebut, Anda dan pasangan dapat menyusun anggaran pengeluaran per bulan secara lebih detil .

Cek saldo tabungan Anda di bank secara berkala. Dengan demikian Anda yakin jumlah tabungan Anda kini. Jika dirasa perlu, Anda dapat melakukan penghematan pada salah satu pengeluaran rutin per bulan. Bukankah uang itu bisa ditabung? Lumayan ‘kan, sedikit demi sedikit dapat dipakai untuk membeli perlengkapan bayi.

* Cek kartu kredit dan tagihannya

Memeriksa kembali penggunaan kartu kredit dan tagihan-tagihan yang belum terbayar merupakan langkah bijak. Bagaimanapun, hadirnya anak perlu dana yang tidak sedikit. Ada baiknya Anda tuntaskan tagihan-tagihan.

Minimalkan penggunaan kartu kredit sementara waktu karena bunganya tergolong tinggi. Tanpa disadari bunga dapat melilit Anda dalam jeratan hutang yang semakin dalam.

Bila Anda dan pasangan berdisiplin tidak terlena dengan kemudahan kartu kredit, dan hemat dalam belanja, jangan heran jika Anda berdua punya uang lebih yang dapat dialokasikan untuk persiapan menyambut si kecil.

Anda pun dapat mempertimbangkan tawaran personal loan dari salah satu bank tepercaya untuk mendapatkan dana tambahan demi terpenuhinya kebutuhan menyambut kelahiran si kecil. Pilih bank yang dapat membantu dan memberi kemudahan dengan bunga pinjaman yang tidak terlalu tinggi.

* Ketahui hak Anda

Bagi Anda ibu bekerja, cobalah ketahui hak Anda sebagai karyawati yang tengah hamil dan menanti kelahiran. Anda bisa berdiskusi dengan atasan Anda dan kepala SDM tentang perkiraan tanggal cuti, dan pastikan tak kehilangan hak-hak Anda. Semisal gaji semasa cuti, biaya konsultasi ke dokter kandungan, dan biaya melahirkan.

Namun bila Anda mengelola usaha sendiri, Anda perlu menentukan secara bijak tunjangan untuk diri sendiri seluruh biaya tersebut.

* Jangan terlalu khawatir

Anda tentu ingin semua persiapan finansial terpenuhi. Ketika tiba hari “H”, Anda dan pasangan tak pusing dan repot dengan dana yang mesti dikeluarkan.

Tak dipungkiri uang berperan penting dan kerap menjadi pemicu pertengkaran suami-istri. Namun, dengan strategi tepat, Anda berdua dapat memanfaatkan dana secara bijak.

Anda pun tetap dapat mengkomunikasikan sisi finansial dengan pasangan, merancang rencana anggaran keuangan untuk masa depan buah hati tercinta, dan tidak lupa senantiasa memberikan cinta serta kasih sayang untuk si kecil. Selamat berhitung!

Pos-Pos Pengeluaran Wajib

• Konsultasi rutin tiap bulan ke dokter kandungan
• Vitamin dan susu khusus ibu hamil
• Baju, celana dan popok bayi
• Kosmetik bayi, semisal bedak dan minyak telon.
• Perlengkapan mandi bayi, semisal sampo, sabun, tempat mandi bayi, dan handuk
• Boks bayi dan perlengkapan tidur
• Biaya melahirkan dan rawat inap
• Biaya konsultasi ke dokter anak

Cherry Riadi Lukman

Add comment Agustus 30, 2008

Hentikan kebiasan Anda menyisakan uang untuk bisa ditabung!

“Lho, apa maksudnya? Nanti kalau tidak ada uang yang bisa disisakan, bagaimana saya bisa menabung?”, begitu mungkin pikir Anda.

Sekali lagi, saran saya adalah: tetaplah mengeluarkan uang, dan tak perlu menyisakan uang untuk bisa ditabung.

Bagaimana caranya? Bisa. Masukkan menabung sebagai salah satu pos pengeluaran yang Anda lakukan setiap bulan. Dengan demikian, Anda tidak perlu menyisakan uang setiap akhir bulan untuk bisa ditabung, karena menabung itu sudah termasuk dalam pos pengeluaran yang Anda lakukan setiap bulan.

Kesalahan yang sering dilakukan orang dalam menabung adalah karena mereka berbelanja terlebih dahulu, barulah sisanya – kalau ada – ditabungkan. Sebagai informasi saja buat Anda, dari pengalaman saya bertemu dengan banyak sekali klien, hal itu tidak selalu bisa jalan. Kenapa? Karena seringkali uang Anda tidak akan bersisa pada akhir bulan sehingga tidak ada yang bisa ditabung.

Karena itu, mungkin ada baiknya bila Anda merubah kebiasaan tersebut dengan melakukan sejumlah cara dibawah ini:

  1. Bayar diri Anda terlebih dahulu. Kata bayar disini maksudnya adalah cobalah untuk mengeluarkan uang untuk pos tabungan sebelum Anda melakukan pembayaran untuk pengeluaran apapun. Jadi masukkan pos tabungan ke dalam pos pengeluaran rutin tiap bulan. Anggaplah menabung sebagai pengeluaran rutin Anda, sama dengan biaya rumah tangga lainnya seperti tagihan listrik, PAM, makanan, transportasi dan lain-lain.

  2. Jangan pernah membayar dengan uang logam. Berbelanjalah hanya dengan uang kertas saja. Jika Anda dapat kembalian uang logam, masukkanlah uang logam tersebut ke dalam celengan (celengan ayam atau kaleng), dan jangan buka celengan tersebut sebelum penuh. Jika sudah penuh, buka celengan tersebut dan masukkanlah ke dalam rekening Anda di bank. Besarnya uang logam yang harus masuk celengan dapat Anda tentukan sendiri misalnya uang logam senilai Rp 100 dan Rp 500 ,- atau hanya Rp 1000,- saja atau semuanya. Ya, saya tahu, ini kesannya seperti mengajarkan anak SD untuk menabung. Tapi cara ini terbukti ampuh lho. Kalau kita mengajarkan anak kita menabung di celengan, kenapa kita tidak mempraktekkan-nya juga?

Mudah-mudahan cara diatas bisa membantu Anda

sumber : tulisan safir senduk

Add comment Agustus 30, 2008

Manajemen Keuangan Keluarga

Banyak orang beranggapan bahwa Manajemen keuangan keluarga merupakan salah satu bidang yang rumit. Sebenarnya manajemen keuangan keluarga tidaklah rumit seperti yang dibayangkan banyak orang khususnya ibu-ibu. Untuk menjadi manajer keuangan keluarga yang cerdas dan bijak Anda tidak harus menjadi seorang ahli keuangan.

Manajemen keuangan keluarga memang membutuhkan pengetahuan dan kearifan dalam menjalankannya. Kebanyakan orang yang merasa terintimidasi dengan masalah ini, malah mengabaikannya. Persoalaan ini harusnya menjadi prioritas keluarga karena banyak sekali masalah timbul karena kurang bijaknya manajer keuangan keluarga dalam mengelola dan mengatur keuangannya. Sebagai seorang manajer keuangan keluarga, ada beberapa aspek yang menurut hemat kami perlu ditangani yaitu:

- Membuat dan meninjau secara perisodik prioritas keuangan keluarga.
- Mengelola pendapatan yang terbatas secara bijak.
- Menghitung kebutuhan proteksi serta menginvestasikan dana dalam bentuk investasi yang sesuai.
- Menentukan sebuah rencana pensiun.
- Mempersiapkan dana pendidikan untuk anak-anak.
- Membeli mobil dengan bijak.
- Belanja dengan bijak.
- Mengajarkan anak-anak mengenai keuangan.

Ini merupakan hal-hal dasar yang sebaiknya dipikirkan dan direncanakan oleh keluarga melalui seorang manajer keuangan keluarga, bisa ibu atau bapak atau keduanya. Keuangan keluarga pasti akan dihadapi dengan berbagai hambatan baik kecil maupun besar. Bisa jadi hambatan ini mengakibatkan krisis keuangan. Bila Anda berada dalam posisi ini, tidak ada untungnya Anda mengatakan bahwa kalau saja saya tau lebih dulu bagaimana belanja secara bijak atau mempunyai anggaran belanja keluarga atau menjalankan kehidupan keuangan keluarga berdasarkan prioritas-prioritas yang telah disepakati maka tentunya kita akan terhindar dari kehancuran keuangan keluarga. Cobalah untuk merencanakan bagaimana keluar dari masalah dan dapat terus menjalani kehidupan keluarga secara sejahtera.

Tiga langkah yang dibutuhkan
Untuk dapat menjalankan roda kehidupan keluarga secara bijak kami melihat pentingnya bagi sebuah keluarga untuk menjalankan tiga langkah berikut ini: pertama adalah mengidentifikasi dan menetapkan prioritas keuangan keluarga. Kedua, memikirkan dan mengembangkan sebuah rencana pencapaian dan ketiga mengembangkan prosedur pelaksanaan perencanaan yang telah dibuat.

Mengidentifikasi dan menetapkan prioritas keuangan
Menentukan prioritas keuangan secara spesifik merupakan langkah awal dalam sebuah menajemen keuangan keluarga. Menentukan prioritas keuangan keluarga yang sesuai dengan keinginan masing-masing anggota keluarga membutuhkan perbincangan yang dalam. Dibutuhkan keterbukaan serta kesepakatan anggota keluarga khususnya ibu dan bapak yang akan membawa atau memimpin keluarga.

Tujuan keuangan keluarga harus dinyatakana dalam nilai yang terukur serta jangka waktu pencapaiannya. Misalkan, Anda meneginginkan untuk dapat hidup berkecukupan di masa tua nanti. Itu merupakan tujuan tapi belum spesifik masih dibutuhkan suatu nilai yang dapat Anda tuju dimasa depan, misalkan saja Anda membutuhkan dana Rp.1 milyar untuk dapat hidup layak di masa tua nanti. Jadi tujuan keuangan yang benar adalah pensiun di usia 55 tahun dengan dana yang harus dimiliki adalah 1 milyar rupiah.

sumber : www.pembelajar.com

Add comment Agustus 30, 2008

Memahami Keuangan Keluarga

Bila Anda seperti layaknya masyarakat umum, harus pergi ke kantor setiap pagi dan pulang sore harinya. Dan setiap akhir bulan atau awal bulan, Anda akan menerima gaji sebagai hasil kerja keras Anda selama satu bulan. Tentunya Anda ingin memenuhi semua kebutuhan dan keinginan Anda dengan penghasilan yang Anda miliki. Untuk itu dibutuhkan langkah-langkah agar keputusan keuangan yang dimabil tidak merusak kondisi keuangan jangka panjang.

Sebagai contoh, sebut saja Anton, saat ini bekerja di sebuah perusahaan IT di Jakarta dengan gaji bulanan sebesar Rp5 juta dan istrinya, Anita, bekerja di sebuah perusahaan BUMN, dengan gaji Rp3 juta per bulannya. Total pendapatan keluarga Anton setiap bulannya adalah Rp8 juta atau Rp96 juta setiap tahunnya.

Pajak. Umumnya gaji yang diterima para pegawai sudah dipotong pajak. Jadi Anda sudah mendapatkan pendapatan bersih setiap bulannya. Demikian pula dengan keluarga Anton, sudah mendapatkan gaji bersih setiap bulannya. Kalau gaji Anda masih gaji kotor, maka sebaiknya kurangi dulu dengan potongan pajak sebelum Anda memasukkannya ke dalam anggaran keuangan keluarga.

Pengeluaran keluarga. Sejalan dengan bergulirnya kehidupan berkeluarga, tentunya membutuhkan biaya. Pengeluaran yang umum dilakukan oleh keluarga, secara garis besar seperti berikut ini:

± Sewa rumah: Rp1,2 juta perbulannya.
± Cicilan mobil: Rp2,3 juta.
± Biaya perawatan dan kebutuhan transportasi: Rp500.000
± Listrik dan Telp. :Rp900.000
± Belanja kebutuhan bulanan: Rp1,3 juta
± Entertainment, makan di luar dan lain-lain: Rp1 juta
± Pembantu rumah tangga and supir: Rp.800,000

Bila memang pengeluaran keluarga Anton seperti yang terlihat di atas, tentunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat ini sudah mencukupi? Betul, untuk satu tingkatan memang sudah terpenuhi. Tapi kehidupan keuangan bukan saja untuk saat ini tapi juga untuk masa datang.

Dengan keterbatasan penghasilan bulanan, sudah seharusnya kita merencanakan dan mengoptimalkannya untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginan kita. Dari contoh keluarga Anton, bagaiamana bila kami memiliki kekuatan majik, di mana kami naikkan dua kali lipat pendapatan keluarga Anton, yang tadinya hanya Rp8 juta setiap bulannya sekarang menjadi Rp16 juta setiap bulannya, apakah ini akan mempermudah? Belum tentu. Karena umumnya kita memiliki dorongan untuk meningkatkan pengeluaran.

Pada kenyataannya, bila kita katakan pada 100 orang akan menaikan gaji mereka 100%, 99 dari mereka pasti akan mengandakan pengeluaran mereka. Karena mereka merasa memiliki kaptasitas. Mereka akan memilih tinggal di rumah yang lebih besar, membeli mobil yang lebih bagus, dan selanjutnya, yang pada akhirnya mereka akan kembali lingkaran setan sebelumnya. Jadi jelas sekali di sini bahwa menambah pemasukan bukanlah solusi terbaik. Karena kita memiliki kecenderungan untuk menghabiskan apa yang kita dapatkan. Hal ini adalah normal. Tapi kita harus mewaspadainya.

Goal Setting Priority

Perihal tersulit dalam mengontrol keuangan adalah memulai untuk berjalan pada jalur yang benar. Selama masa sekolah sampai perguruan tinggi, kita tidak pernah mendapatkan pemahaman mengenai keuangan individu. Dan yang selalu kita dengar hanyalah persoalan keuangan tanpa tau langkah pemecahannya.

Ada satu hal yang bisa Anda lakukan untuk memulai perjalanan di jalur yang benar yaitu dengan menetapkan tujuan prioritas yang Anda idamkan. Bila Anda menginginkan sesuatu dari yang Anda lakukan, kemungkinan besar Anda akan melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan hal tersebut.

sumber :www.pembelajar.com

Add comment Agustus 30, 2008

Mengelola Keuangan Keluarga

Uang seringkali menjadi penyebab terjadinya perceraian. Perselisihan mengenai keuangan bisa saja terjadi disaat uang melimpah maupun disaat kekurangan uang. Masyarakat Indonesia merasa risih bila harus membicarakan masalah keuangan dalam keluarga. Oleh karena itu kami merasa perlu untuk terus menyerukan kepada semua kalangan masyarakat terutama pasangan suami istri untuk belajar saling terbuka mengenai keuangannya masing-masing. Kami sangat percaya bahwa setiap orang memiliki pandangan mengenai uang yang berbeda-beda karena suami atau istri dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Kegagalan dalam membicarakan soal uang di dalam keluarga berpotensi menimbulkan permasalahan.

Banyak orang merasa bahwa membicarakan keuangan dalam keluarga adalah tabu. Namun menurut hemat kami, hal ini malah seharusnya dibicarakan. Kalangan ini pernah berpikir, Apakah dengan membiarkan persoalan keuangan dalam keluarga belarut-larut akan menyelesaikan segalanya? Atau bisa menjadi bola salju yang terus membesar? Persoalan kecil bisa menjadi besar bila tidak diatasi dan diselesaikan dengan bijak. Oleh karena itu dalam hal keuangan keluarga sangat dibutuhkan sebuah pola pengelolaan dimana masing-masing individu di dalam keluarga (suami dan istri) memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan pembagian tanggung jawab serta diskusi yang mendalam dapat meringankan persoalan yang mungkin timbul di masa depan.

Berikut ini ada tiga tipe pengelolaan yang bisa Anda pilih sesuai dengan keinginan Anda bersama pasangan Anda. Tentunya masih banyak lagi pola pengelolaan yang ada. Hal terpenting disini adalah saling keterbukaan serta menjalani kehidupan keluarga dengan tanggung jawab bersama.

1. Uang bersama dan Sistem Amplop

Penghasilan suami istri langsung digabung bersama. Setelah itu, gabungan kedua pendapatan langsung dialokasikan ke pos-pos pengeluaran rutin yang telah dihitung lebih dulu. Lazimnya, setiap pos diwakili oleh satu amplop. Pos-pos pengeluaran itu, pada beberapa keluarga, bukan saja kebutuhan rumah tangga makan minum, dan listrik saja, tapi juga termasuk membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, asuransi dan kebutuhan mobil (bensin, servis berkala, kerusakan, dan lain-lain). Bahkan tabungan, pengeluaran pribadi ayah-ibu dan liburan pun jadi amplop tersendiri. Bila ada sisa, dimasukkan ke dalam tabungan suami atau istri, atau khusus membuka lagi account bersama di bank untuk ‘menampung’ sisa amplop setiap bulannya.

2. Membagi Berdasar Persentase

Bentuk manajemen ini adalah membagi tanggung jawab dalam bentuk jumlah atau persentase Seluruh kebutuhan keluarga setiap bulan dihitung termasuk pos darurat dan pos tabungan. Masing-masing sepakat menyumbang sebesar jumlah tertentu untuk menutupi kebutuhan tersebut. Sisanya digunakan sebagai tabungan pribadi untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, istri membeli parfum, lipstik, atau baju. Bisa juga tanpa menghitung kebutuhan keluarga terlebih dahulu, suami-istri memberi kontribusi yang sama berdasarkan prosentase. Misalnya 80:20. Artinya, masing-masing “menyetor” 80 persen dari gajinya. Sisa 20 persen disimpan untuk diri sendiri. Jika bisa berhemat, dari uang bersama yang 80 persen, bisa tersisa untuk tabungan keluarga, di samping suami dan istri juga masing-masing punya tabungan pribadi.

3. Membagi Tanggung Jawab

Misalnya, suami mengeluarkan biaya untuk urusan “berat”, seperti membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, kebutuhan mobil, dan asuransi. Sementara bagian istri adalah belanja logistik bulanan, pernak-pernik rumah, jajan, dan liburan akhir pekan dan pos tabungan. Dilihat dari jumlahnya, suami menanggung lebih banyak dana. Tapi istri juga punya peranan dalam kontribusi dana rumah tangga. Kalau ternyata istri yang memiliki pendapatan lebih besar, tentunya hal ini juga bisa dilakukan sebaliknya.

Mana yang terbaik? Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan tentunya kesepakatan antara suami dan istri. Diskusikan hal ini dengan pasangan masing-masing, agar persoalan keuangan keluarga bukan lagi menjadi masalah dalam keluarga.

Kalau istri tidak bekerja? Bagaimana?

Ketiga contoh diatas merupakan pola alokasi dari pendapatan suami dan istri. Dimana suami dan istri bekerja dan menghasilkan pendapatan secara regular setiap bulannya. Bagaimana pula bila hanya suami atau istri yang bekerja? Sedangkan pasangan yang lainnya tinggal di rumah?

Bila hal ini yang menjadi pola keuangan di keluarga Anda tentunya akan sangat baik bila Anda dan pasangan Anda membicarakan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Mungkin Anda sebagai suami karena bekerja yang berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sedangkan istri yang tinggal di rumah bertanggung jawab dalam hal rumah tangga, mulai dari persoalan belanja regular bulanan sampai alokasi tabungan (dari pendapatan suami) untuk berbagai macam tujuan keuangan keluarga yang dimiliki. Dalam hal ini istri harusnya seperti manejer dalam sebuah perusahaan.

Dengan membagi tanggung jawab bersama, suami tidak lagi merasa lebih dibandingkan istri. Karena kedua individu dalam keluarga tersebut memiliki tanggung jawab masing-masing. Untuk itulah keterbukaan dan diskusi mengenai keuangan menjadi sangat dibutuhkan.

Tiga hal penting dalam mengelola keuangan bersama

Pertama, pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan Anda sebagai istri yang harus membayarnya maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga.

Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Dimana Anda berdua haruslah terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang. Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasagan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dan yang tersedia tidak mencukupi.

Kedua, pengeluaran yang disepakati menjadi sangat vital. Anda berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk mengganti mobil dengan yang baru setelah beberapa tahun? Atau apa yang Anda berdua pikirkan berkenaan dengan liburan? Sebagai kesimpulan, Anda harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat Anda penuhi.

Hal terakhir yang menjadi sangat penting adalah menabung. Dalam hal ini visi kedepan menjadi sangat penting. Dimana dengan tujuan yang Anda dan pasangan tentukan akan memberikan motivasi serta pemilihan strategi yang dapat membantu Anda mencapai tujuan masa depan yang dimiliki. Dengan begitu Anda juga akan melihat pentingnya pengalokasian dana saat ini dan dimulai saat ini juga.

Demikianlah ulasan singkat seputar uang dalam kaitannya dengan hubungan suami istri di dalam keluarga. Semoga memberikan masukan dan tambahan ilmu bagi Anda.

Muhamad Ichsan, ChFC, MsFin
Sumber Pembelajar.com

Add comment Agustus 30, 2008

Nasib Seorang Karyawan

Jika kita seorang karyawan dengan gaji pas-pas-an. tidak bisa bergerak dari gajian ke gajian. mau jalan2 berpikir berkali-kali. ditambah anak, biaya2 untuk anak sakit,sekolah,makan sehari2.. pusingggg…

saya mengatasinya mencoba dari hal yang paling kecil. tidak jajan setiap hari tapi bawa makanan dari rumah. dengan menghemat 5000/hari 20 hari kerja kita bisa hemat 100.000, bisa kita gunakan untuk beli mainan anak, buku dsb.

catat setiap pengeluaran sekecil apapun. untuk analisa kita sendiri apakah kita betul2 perlu membeli barang tsb diwaktu-waktu mendatang.. kita baca lagi catatan-catatan kita tsb. dan kita akan terkaget-kaget ternyata banyak makanan atau barang yang seharusnya tidak kita beli tapi kita beli entah kenapa….

Add comment Agustus 30, 2008

Keuangan Keluarga

keuangan keluarga

Continue Reading 1 comment Agustus 30, 2008


Arsip

Tulisan Terakhir

Kategori

Komentar Terakhir

mifaputri di Keuangan Keluarga

Blog Stats

Visitor